9/26/2018

BANYAK WANITA LEBIH BAHAGIA SETELAH BERCERAI




TUKANGBAKSO - Kata cerai ini sebenarnya adalah momok bagi orang orang yang sudah berumah tangga,kata cerai  ini adalah kata yang sangat tidak diharapkan bagi semua orang saat sudah menjalani berumah tangga...mana ada orang yang sudah berumah tangga mengharapkan perceraian..?

nah ini ada hal yang sangat menarik jika sampai terjadi suatu perceraian dalam suatu hubungan rumah tangga,hal menariknya adalah setelah masa perceraian selesai,setelah perceraian selesai semuanya akan menjalani hidup sendiri sendiri.dan dalam hidup sendiri ini biasa semuanya akan mencari kebahagiaan sendiri pula..tapi dalam kasus ini banyak orang berpikiran bahwa dalam perceraian pihak wanita yang paling banyak menderitanya..tapi dalam kenyataannya itu terbalik,karena justru pihak pria yang paling banyak menderita.dan kenyataannya banyak wanita lebih bahagia setelah bercerai




Dalam hal ini  mengapa pihak pria paling banyak menderitanya..?..karena yamg umum pihak pria banyak sekali mengatakan atau bercerita pada teman kerabat atau siapapun tentang "kekecewaan" kegagalan" dan pria umumnya masih lebih banyak  menyimpan kenangan dan perasaan terhadap mantan pasangannya, namun pria juga lebih cepat berkencan.

Namun para wanita umunya setelah bercerai sering mengatakan halhalyang positif serperti "senang" berjuang" dan kegembiraan" dalam hal ini secara garis besar wanita cepat menghilangkan perasaan terhadap mantannya dan mencari kesibukan sendiri untuk memulai berjuang sendiri.



Pertanyaannya,mengapa mereka bercerai..? urusan perceraian dalam rumah tangga ,itu sebenarnya penyebabnya banyak sekali,disebabkan oleh berbagai hal.misalnya masalah ekonomi,orang tua,pihak ketiga atau karena faktor lainnya,intinya dalam berumah tangga dan bercerai itu penyebabnya adalah ketidak cocokan masing masing dan banyak yang mengatakan bahwa memang salah satu dari pasangan itu sudah berubah.dan ketika bercerai,banyak wanita lebih bahagia setelah bercerai




Dalam berumah tangga itu memang memerlukan proses yang panjang untuk mempertahankannya supaya tidak ada suatu masalah,semuanya harus bisa mawasdiri,saling mengalah dan saling mengerti.untuk bertahan dalam semuah rumah tangga itu memang memerlukan kesabaran dan semuanya pelan pelan bisa di pelajarinya,makanya dalam berumah tangga pasangan harus terbuka satu sama lainnya.


tonton @maschannel di video.com

sumber survey


9/12/2018

MYSTERY OF KAWI MOUNTAINS

Religious Tourism






TUKANG BAKSO - Mystery of kawi mountains, Every Night 1 Suro, the area of ​​Pesarean (Cemetery) Gunung Kawi is visited by
thousands of pilgrims from various cities and regions have arrived since afternoon.
The flower traders, frankincense, candles, hio and other offerings were busy serving the pilgrims.




Puppet shows and lion dance enliven the atmosphere.pesarean gunung kawi was more like a night market than a
burial complex, all night long. That night, scary impression, haunted, and ‘look for wealth, l
pesugihan, or muja 'which as many people imagine
about "Gunung Kawi", as if drowned by the din of the visitors.

After Eyang Djoego died in 1871, and followed Eyang Iman Sudjono
in 1876, the students and their followers continued to respect him. Every year, descendants,
followers and also other pilgrims came to their graves to commemorate.

The tomb is the center of the Pesarean Gunung Kawi complex. that tomb became
magnet to attract tens of thousands of people every year. The pilgrims
come to respect and at the same time ask for blessings to him who is buried
in the place, Eyang Djoego and Eyang RM Iman Sudjono.
Yeah, that's right, in one pit the two Eyang were buried, friends of the struggle,
teachers and students who had raised this Father-Son.


Why and how can a burial area (pesarean - Javanese language) be so famous and visited by many pilgrims,
especially Chinese citizens? Let's explore the coverage:






Domination of Tionghoa Residents ;

Apparently, over time, this grave pilgrimage ritual developed into a grave pilgrimage ceremony and added
blessings. And unique, now you can say more
Chinese people who come on pilgrimage rather than the Javanese themselves. Even inside
certain days, like Chinese New Year, Christmas, and Eid al-Fitr, the number of
Chinese people who come on pilgrimage is far more than the Javanese themselves.




The participation of Chinese citizens in the pilgrimage environment at Pesarean Gunung Kawi
actually started from a man named Tan Kie Lam. At that time he had time
treated and cured by Eyang Iman Sudjono thanks to the water of the heritage test jar
Eyang Djoego. Then, Tan Kie Lam also studied at the Gunung Kawi hermitage and stayed
there. As a Chinese, he may feel uncomfortable by joining rituals
Javanese society. Finally, he founded his own "little temple" himself
to pray and to honor the two deceased his teachers.


visiting my blog